Hari ini adalah hari terakhirku stay di tanah kelahiranku ini. Prabumulih. Aku harus pergi ke tempat dimana aku belajar, menuntut ilmu, dan mengejar gelar sarjana. Sudah sejak pagi tadi beberapa sahabatku memang sengaja datang kerumahku. Pertemuan terakhir sejak liburanku disini, begitulah mereka menyebut moment di hari ini.
Hmmm, sebenarnya jika masih punya kesempatan untuk memilih, akupun tak ingin beranjak dari kota ini. Disini terlalu indah, tenang, dan membuat damai. Tapi apa dayaku? Aku sendirilah yang memilih dan kemudian memaksa kedua orang tuaku agar memberikan izin padaku untuk dapat menuntut ilmu di seberang sana. Dengan alasan kemajuan berpikir, teknologi, dan tentu saja pepatah pamungkasku tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.
Sampai kemudian kedua orang tuaku bersedia melepaskan seorang anak gadis pingitannya keluar dari pagar wilayahnya sendiri. Melangkah... sampai jauh ke seberang sana untuk belajar tentang makna kehidupan, mencoba berdiri di atas kakinya sendiri.
Hingga sekarang inilah AKU, bukan lagi si anak kesayangan papa, yang setiap harinya menunggu sang papa mengantarkan makan siangnya ke sekolah. Atau seorang gadis yang ketika terjatuh akan langsung berlari ke pelukan mama, sampai kemudian berhari-hari tak akan mau keluar rumah sendiri lagi. Atau mungkin seorang kakak yang selalu saja merebut mainan adiknya sendiri.
“Sayang, ayo cepat! Nanti kita ketinggalan pesawat lagi, ini sudah jam 11 lho...” teriakkan mama membuatku tersadar dari lamunanku.
Sesegera mungkin aku memeluk semua teman-temanku dan lantas merapikan bajuku yang tampak sedikit kusut.
“Ia ma, ini udah siap kok. Yuuuk...” aku bergegas menyusul mamaku, setengah berlari ke dalam travel diikuti oleh teman-temanku.
Setelah berpamitan dan melambaikan tangan kepada semua yang mengantarku sampai ke teras depan rumah, travel putih yang aku naiki bersama mama dan seorang sepupuku itu pun melaju kencang menuju bandara.
######
Sesampainya di bandara, segera mamaku menyampaikan petuah-petuahnya yang harus, kudu, dan wajib aku selalu ingat dan jalankan sesuai jadwalnya.
“Iya ma... iya... aku kan bukan anak kecil lagi” rajukku pada wanita cantik yang mengenakan gamis ungu tua di depanku ini.
“Mama begini karena mama sayang sama kamu, senyum dong cantik...” bujuknya padaku sambil mengelus lembut kepalaku. Sementara aku tetap saja sibuk dengan HP kesayanganku.
“cantik cium dulu dong, mau masuk kan?” sambung mamaku lagi.
“iya... daaaah mama, tunggu aku tahun depan ya.” Jawabku seadanya, sambil mencium pipi kanan dan kiri mamaku dan kemudian memeluknya.
Setelah masuk dan mengurus semua keperluan administrasi akupun melangkah bersama sepupuku masuk kedalam waiting room, dan tak lama kemudian kami masuk ke dalam cabin salah satu pesawat dari maskapai yang kami pilih. Beruntung, kali ini maskapai yang kami pilih karena harganya yang cukup terjangkau ini tidak menunda jadwal keberangkatannya.
Setelah mendapatkan tempat duduk sesuai dengan nomor yang ditentukan, akupun segera mengencangkan sabuk pengaman pesawat. Dan tidak perlu waktu lama, aku sudah terbuai jauh melayang dalam lamunanku sendiri.
Bagaimana saat aku sampai di tempat tujuanku nanti, bagaimana dengan suasana kampus sekarang, dan entah berapa banyak kata “bagaimana” yang terlintas di otakku saat itu.
#####
“Pagi Namira!” suara sapaan itu sepertinya sudah tak asing lagi di telingaku. Aku berpikir sejenak, dan kemudian berusaha menebak nama orang yang menyapaku itu.
“Hmmm, Nisa ya?” aku mencoba menebak, sambil terus mencoba melepaskan tangannya yang sejak tadi menutupi mataku.
“Yakin?” perempuan dengan suara berlogat aceh itu seperti ingin mengacaukan keyakinanku terhadap jawaban tadi.
“Ya iya lah, siapa lagi coba yang telapak tangannya selembut ini? Plus suara yang kental dengan logat Acehnya. Ayoooo ngaku deh,” jawabku sembari tersenyum.
Nisa pun segera melepaskan dekapan tangannya dari kedua mataku.
“Kangen kamu!!!” dengan manja ia mengalihkan tangannya melingkari pinggangku, sambil tertawa. Tak lama kemudian datang kedua sahabat kami yang lainnya, Eva dan Dilla.
![]() |
| Eva, Aku (Namira), Dilla, dan Nisa |
Kamipun berjalan beriringan menuju kelas yang berlabel Sakura room tempat kami belajar bersama teman-teman satu kelas lainnya.
“Eh mira, gimana tuh si EL mu?” pertanyaan eva pun seketika membuat raut wajahku ditekuk. Aaaaaah, kenapa juga si eva pakek nanya-nanya soal dia? Padahalkan aku susah payah melupakan dia saat liburan kemarin. Hati kecilku seperti memberontrak.
“Mira, kok melamun?” panggilan nisa membuyarkan semua keluh kesah dalam hatiku.
Hmmm, aku menarik nafas panjaaaaaaaaaaang sekali.
“Oke, aku jelasin. Nothing special about him! Kalian tau? Dia itu sama sekali bukan yang baik. Playboy! Nyebelin! Kali ini aku bener –bener salah orang!”
“Aku benci! Aku betul-betul nyesel pernah kenal dengan dia. Nyesel!” aku melanjutkan penjelasanku dengan nafas yang semakin memburu. Tanpa kusadari mataku mulai basah, air mataku tak terbendung lagi, diterjang oleh ombak kegalauan yang entah dari arah mana datangnya.
“Ups... Sorry beab, I don’t know about it. Really...” nisa mencoba menenangkanku.
“Oke, it’s fine. I’ll be oke guys! Who is he? Just a human, yang numpang lewat doang dikehidupan kita. Right?” aku mulai menggebu-gebu lagi, dan kali ini sepertinya volume suaraku mulai tak terkontrol.
Tanpa kusadari beberapa teman yang berada disekitar mulai menoleh ke arah kami, memandang aneh mungkin. Tapi sudahlah! Aku benar-benar tak peduli kali ini.
“Hei semua... nih coba aku bawa apa? Roti keju buat kamu nis, cokelat buat eva, keripik buat aku, dan tentunya chocolatoz special buat kamu mira sayang.” tiba-tiba dilla langsung menghentikan kehebohannya dan segera mengambil posisi duduk di sebelahku.
“Kamu kenapa sayang? Ada yang salah?” lanjutnya.
“Nggak. Sudah gak usah dibahas!” pintaku pada mereka.
“Hmmm biar aku tebak, masalah EL?” tanya dilla penasaran.
Aku masih saja terdiam.
“Iya tuh nyebelin banget si EL! Udah mah aku dijadiin korban, sekarang si namira. Aku tonjok juga deh!” Celetuk eva sambil mengacungkan tinjunya.
“Sudahlah! Kalian gak lihat reaksi namira? Sudahlah mira, aku juga kan udah bilang dari awal. Dia itu gak baik buat kamu. Orang kayak gitu kok dipercaya. Yasudahlah jadikan pelajaran aja!” Nisa menimpali.
![]() |
| si EL yang menyebalkan! |
“eh, kenapa kamu nggak sama si Qiqi aja say?” suara eva pun memecah keheningan.
“What? Ya Rabb, apanya? Orang jutek kayak gitu kamu kasi ke aku. Nggak banget lah! Mending buat dilla aja tuh, cocok kan? Jutek-jutekan deh ntar.” Jawabku sekenanya, disambut tawa dilla, nisa, dan eva.
Suasanapun kembali mencair, apalagi sesaat kemudian orang yang disebut-sebut bernama Qiqi pun muncul dari balik pintu masuk ruangan. Masih dengan gaya khasnya, celana bahan warna hitam, kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna biru dongker, ransel hitam besar, jacket parasut, dan tak ketinggalan kacamata minusnya.
Huh... betul-betul style yang monoton. Ya Ampun! Gak kebayang deh aku sama dia, batinku.
“Woiiii! Ayo melamun ya?” dilla menggodaku.
“pasti lagi ngeliatin sambil membayangkan si Qiqi ya?” nisa menimpali.
“Apa sih kalian? Udah ihhhh ntar orangnya denger, Geer lagi!!!” aku membela diri.
“Tuh kan mukanya merah, katanya gak suka? Jutek? Ayoooo” kini eva gantian menggodaku disambut tawa riuh dua sahabatku yang lainnya.
"siapakah si Qiqi ini?"
Note : Penasaran kan bagaimana kelanjutannya? Nantikan ya di part II nya. ;)
Nama-nama diatas hanya karangan belaka, jadi kalau ada kesamaan nama mohon maaf ya.









0 komentar:
Posting Komentar