Setelah melaksanakan shalat Subuh
pagi ini, akupun kembali beranjak menuju pembaringan. Ya . . . aku kembali
tertidur, setelah semalam aku baru bisa tidur pukul 2:00 wib. Dan penyebabnya
masih hal yang sama, karena aku harus menyicil pembuatan 3 bentuk proposal dana
untuk suatu kegiatan di kampusku.
###
Tak
lama kemudian aku kembali terbangun,
membuka mata, dan sesaat kemudian berkata pada diriku sendiri: All is well syilla! Lakukan yang bisa kau
lakukan. Bergerak atau kau akan tergantikan oleh orang lain yang lebih pantas.
Aku
tidak tau kapan persisnya aku mulai memberi diri sendiri kalimat penyemangat
harian seperti ini. Yang pasti setidaknya aku tau mengapa, ya karena aku memang
membutuhkannya, mantra yang bisa membuatku mengesampingkan rasa lelah yang
kerap kali mendera tubuhku.
Pagi ini, setelah menyemangati diri
sendiri, aku melirik jam digital berbentuk katak kesayanganku. Pukul 07:00,
waktu yang pas untuk bersiap-siap berangkat ke kampus.
###
Setelah semua dirasa pas, akupun bergegas
melangkah, mengunci pintu, dan kemudian berlari membaur bersama warga komplek
perumahan lainnya.
“
Pagi pak!!! ” sapaku pada seorang bapak yang belakangan ku ketahui bernama
Tono.
“
Eh, Syilla. Pagi nak... Mau berangkat ke kampus? “ ia balik menanyaiku sembari
tetap melakukan beberapa gerakan senam ringan di teras rumahnya.
“
Iya nih pak. Hari Ini ada acara di kampus.” Jawabku
Dan
selanjutnya, pak tono hanya tersenyum kecil seraya berkata, “Hati-hati ya nak”
Aku terus saja berjalan, dan setelah itu
naik ke dalam angkutan umum yang biasa aku naiki untuk bisa sampai ke kampusku.
Berada
di dalam angkutan umum ini memang selalu menyenangkan buatku. Aku memilih untuk
duduk di pinggir, bersebelahan dengan pintu yang memang dibiarkan terbuka. Dari
tempat ini, bisa aku rasakan semilir angin pagi yang menerpa wajah, kerudung
dan ujung-ujung rok-ku. Dan itu membuat aku merasa damai dan tentunya yang
membuatku bertambah nyaman, karena disini aku bisa leluasa melaksanakan ritual favoritku, melamun.
“Pondok
Rangga . . . Pondok Rangga . . . kampus
neng.”
Teriakan
dari sopir angkutan ini seketika membuyarkan lamunanku. Tak terasa aku sudah
sampai di tujuanku.
Aku
pun melangkah keluar dari angkutan umum yang kunaiki tadi. Dan setelah
memberikan selembar uang dua-ribuan, aku segera mempercepat langkahku masuk
kedalam lingkungan kampus.
Ketika aku tiba di dalam kampus,
tisya dan natha sudah menungguku di bawah pohon kebanggaan kami. Tisya
menatapku, memandang laptop yang begitu saja kujinjing dengan tanganku, sesaat
kemudian kembali menatap wajahku, mataku tepatnya.
“Pagi syilla! Bukankah pagi ini
cerah? Sesuai dengan doamu kemarin.” Natha menyapaku ramah.
“Iya, pagi ini cerah sekali nath.
Aku hampir lupa kalau matahari yang muncul pagi ini masih sama dengan metahari
yang muncul di hari kemarin.” Jawabku agak puitis.
“Dan semalam kau begadang lagi?”
pertanyaan yang terlontar dari mulut mungil Tisya membuatku tidak nyaman. Aku
tak kuasa menjawabnya, aku hanya bisa tertunduk.
“Kenapa gak dijawab syill? Ayo!” tisya melanjutkan pertanyaannya sambil
mencengkram dan menggoyang-goyangkan lenganku. Dan aku masih tertunduk diam,
dan sesaat kemudian air mata mulai membasahi pelupuk mataku.
“Hmmm, iya. Aaaaaaa . . . kkkku. .
.” aku tak mampu melanjutkan perkataanku. Kurasakan lidahku begitu kelu dan kakiku
terasa tak punya daya untuk menopang tubuhku yang memang tidak terlalu
langsing. Sesaat kemudian . . .
“Aku lelah” suaraku terdengar serak, dan
memang hanya kalimat itu yang mampu untuk ku ucapkan saat ini.
Tisha
mendekap tubuhku, mencoba menenangkan aku.
“Aku mengerti, sangat mengertiiiiiiiii
sekali, tapi tak seharusnya kau merusak tubuhmu sendiri seperti ini syilla
sayang.”
Aku
tak mampu mengeluarkan sepatah katapun, hanya air mataku saja yang sejak tadi tak
henti mengalir, hingga membasahi kerudung hijau muda yang dikenakan sahabatku
ini.
“syill, aku mungkin belum bisa
membantu apapun, tapi aku hanya ingin sahabatku ini punya waktu untuk me-rileksasikan
dirinya sendiri. Sekokoh-kokohnya batu karang di lautan pasti akan hancur juga jika
terus menerus diterjang ombak. Nah. . . begitupun tubuhmu, apa syilla gak
khawatir dengan keadaan tubuh syilla? Walaupun sepertinya sekarang masih kuat
dan tak pernah kambuh lagi, tapi nanti, akan tiba pada batas-nya.” Tisha melanjutkan nasihatnya.
Aku
mengangguk, sambil mengelap pipiku yang basah oleh air mata. Dan sesaat
kemudian aku mendapati tenagaku kembali pulih.
Natha
yang sejak tadi memperhatikan kami ternyata juga menitikkan air mata.
“Sudah, seorang syilla kok nangis
sih? Gak banget deh.” Celetuknya.
“Gak, tadi itu Cuma acting kali!”
aku mencoba membela diri.
"Oh, iya deh percaya." Jawab Natha sembari mencubit pipi bakpao-ku
Dan
sesaat kemudian kami pun bersama melangkah menuju ke ruangan
kelas.
###
![]() |
| Sketsa Saat aku dan Tisha bermain di padang ilalang |
![]() |
| Aku (syilla) <kiri>, Tisha <tengah>, Natha <kanan> |


