Rabu, 10 April 2013

Suara Hati Part I


            Setelah melaksanakan shalat Subuh pagi ini, akupun kembali beranjak menuju pembaringan. Ya . . . aku kembali tertidur, setelah semalam aku baru bisa tidur pukul 2:00 wib. Dan penyebabnya masih hal yang sama, karena aku harus menyicil pembuatan 3 bentuk proposal dana untuk suatu kegiatan di kampusku.
###

Tak lama kemudian aku kembali terbangun,  membuka mata, dan sesaat kemudian berkata pada diriku sendiri: All is well syilla! Lakukan yang bisa kau lakukan. Bergerak atau kau akan tergantikan oleh orang lain yang lebih pantas.
Aku tidak tau kapan persisnya aku mulai memberi diri sendiri kalimat penyemangat harian seperti ini. Yang pasti setidaknya aku tau mengapa, ya karena aku memang membutuhkannya, mantra yang bisa membuatku mengesampingkan rasa lelah yang kerap kali mendera tubuhku.
            Pagi ini, setelah menyemangati diri sendiri, aku melirik jam digital berbentuk katak kesayanganku. Pukul 07:00, waktu yang pas untuk bersiap-siap berangkat ke kampus.
###
Setelah semua dirasa pas, akupun bergegas melangkah, mengunci pintu, dan kemudian berlari membaur bersama warga komplek perumahan lainnya.
“ Pagi pak!!! ” sapaku pada seorang bapak yang belakangan ku ketahui bernama Tono.
“ Eh, Syilla. Pagi nak... Mau berangkat ke kampus? “ ia balik menanyaiku sembari tetap melakukan beberapa gerakan senam ringan di teras rumahnya.
“ Iya nih pak. Hari Ini ada acara di kampus.” Jawabku
Dan selanjutnya, pak tono hanya tersenyum kecil seraya berkata, “Hati-hati ya nak”
Aku terus saja berjalan, dan setelah itu naik ke dalam angkutan umum yang biasa aku naiki untuk bisa sampai ke kampusku.
Berada di dalam angkutan umum ini memang selalu menyenangkan buatku. Aku memilih untuk duduk di pinggir, bersebelahan dengan pintu yang memang dibiarkan terbuka. Dari tempat ini, bisa aku rasakan semilir angin pagi yang menerpa wajah, kerudung dan ujung-ujung rok-ku. Dan itu membuat aku merasa damai dan tentunya yang membuatku bertambah nyaman, karena disini aku bisa leluasa melaksanakan  ritual favoritku, melamun.
            “Pondok Rangga  . . . Pondok Rangga . . . kampus neng.”
Teriakan dari sopir angkutan ini seketika membuyarkan lamunanku. Tak terasa aku sudah sampai di tujuanku.
Aku pun melangkah keluar dari angkutan umum yang kunaiki tadi. Dan setelah memberikan selembar uang dua-ribuan, aku segera mempercepat langkahku masuk kedalam lingkungan kampus.
            Ketika aku tiba di dalam kampus, tisya dan natha sudah menungguku di bawah pohon kebanggaan kami. Tisya menatapku, memandang laptop yang begitu saja kujinjing dengan tanganku, sesaat kemudian kembali menatap wajahku, mataku tepatnya.
            “Pagi syilla! Bukankah pagi ini cerah? Sesuai dengan doamu kemarin.” Natha menyapaku ramah.
            “Iya, pagi ini cerah sekali nath. Aku hampir lupa kalau matahari yang muncul pagi ini masih sama dengan metahari yang muncul di hari kemarin.” Jawabku agak puitis.
            “Dan semalam kau begadang lagi?” pertanyaan yang terlontar dari mulut mungil Tisya membuatku tidak nyaman. Aku tak kuasa menjawabnya, aku hanya bisa tertunduk.
            “Kenapa gak dijawab syill?  Ayo!” tisya melanjutkan pertanyaannya sambil mencengkram dan menggoyang-goyangkan lenganku. Dan aku masih tertunduk diam, dan sesaat kemudian air mata mulai membasahi pelupuk mataku.
            “Hmmm, iya. Aaaaaaa . . . kkkku. . .” aku tak mampu melanjutkan perkataanku. Kurasakan lidahku begitu kelu dan kakiku terasa tak punya daya untuk menopang tubuhku yang memang tidak terlalu langsing.  Sesaat kemudian . . .
“Aku lelah” suaraku terdengar serak, dan memang hanya kalimat itu yang mampu untuk ku ucapkan saat ini.
Tisha mendekap tubuhku, mencoba menenangkan aku.
“Aku mengerti, sangat mengertiiiiiiiii sekali, tapi tak seharusnya kau merusak tubuhmu sendiri seperti ini syilla sayang.”
Aku tak mampu mengeluarkan sepatah katapun, hanya air mataku saja yang sejak tadi tak henti mengalir, hingga membasahi kerudung hijau muda yang dikenakan sahabatku ini.
            “syill, aku mungkin belum bisa membantu apapun, tapi aku hanya ingin sahabatku ini punya waktu untuk me-rileksasikan dirinya sendiri. Sekokoh-kokohnya batu karang di lautan pasti akan hancur juga jika terus menerus diterjang ombak. Nah. . . begitupun tubuhmu, apa syilla gak khawatir dengan keadaan tubuh syilla? Walaupun sepertinya sekarang masih kuat dan tak pernah kambuh lagi, tapi nanti, akan tiba pada batas-nya.”  Tisha melanjutkan nasihatnya.
Aku mengangguk, sambil mengelap pipiku yang basah oleh air mata. Dan sesaat kemudian aku mendapati tenagaku kembali pulih.
Natha yang sejak tadi memperhatikan kami ternyata juga menitikkan air mata.
            “Sudah, seorang syilla kok nangis sih? Gak banget deh.” Celetuknya.
            “Gak, tadi itu Cuma acting kali!” aku mencoba membela diri.
            "Oh, iya deh percaya." Jawab Natha sembari mencubit pipi bakpao-ku
Dan sesaat kemudian kami pun bersama melangkah menuju ke ruangan

kelas.
###

*Nantikan kelanjutan ceritanya di Suara hati part II


Sketsa Saat aku dan Tisha bermain di padang ilalang

Aku (syilla) <kiri>, Tisha <tengah>, Natha <kanan>

Ini hamster kesayangan saya namanya "Keybell"l