Jumat, 21 Juni 2013

Catatan Perjalanan "Kutoarjo"

Monday, June 17 '13

"Mbak"
Sapaan itu sukses membungkam ketakutanku, rasanya mungkin sama seperti saat seorang musafir diberi sebotol air disaat ia amat kehausan. Sudah sejak setengah jam yang lalu aku menunggu kedatangannya disini, Terminal Lama, di sebuah kota kecil namun selalu terlihat istimewa, setidaknya bagi diriku sendiri.
"Ovie!" jawabku setengah menjerit sambil mendekap tubuh mungilnya erat.
Thank's God aku berujar pada diriku sendiri. kemudian ku tarik koperku menuju kendaraan roda dua yang akan mengantarkan kami ke kediaman pakde dan budeku ini. 

Bergegas aku mengambil alih kendali kendaraan itu, tak lama kemudian kami sudah melaju bersama kendaraan bermotor lainnya.Sungguh menyenangkan, jalan rayanya pun tak sepadat kota dimana aku berdomisili, hanya ada beberapa bus dan motor yang mengisi jalanan. Beberapa warga pun masih bertahan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi mereka sehari-hari, tak kulewatkan juga untuk memandangi hamparan sawah nan hijau yang membentang disebelah kiri dan kanan jalan raya menambah apik-nya provinsi jawa tengah ini. 

Kira-kira 15 menit menempuh perjalanan, akhirnya motor yang kami kendarai dari stasiun tadi mulai memasuki perkarangan sebuah rumah ber cat orange milik pakde dan budeku.
"Assalamualaikum" aku memberi salam pada penghuni rumah.
"Waalaikumsalam, eh cah ayu udah sampe to? Capek ya pasti? Yuuuk masuk, istirahat." budeku menyambut kedatanganku dengan senyuman ramah, sementara gadis kecil yang tadi menjemputku bergegas menarik koper yang ku bawa ke dalam sebuah ruangan mungil di pojok ruang tv. 
Ah, sungguh tak banyak yang berubah dari rumah ini sejak liburanku tahun lalu, dan aku menyukainya.
Tak lama kemudian aku mulai terlibat dalam obrolan panjang seputar kuliah, keluarga, hingga keuangan keluarga besar kami. 

Wednesday, June 19 '13 

"Vy hari ini makan siang di luar aja ya, mau?" pertanyaan budeku itu sontak membuat aku berdiri, padahal sejak pagi tadi aku hanya bermalas-malasan di atas kasur sambil membaca novel yang memang sengaja ku bawa. Karena asyik sendiri aku sampai tidak menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, laparpun sama sekali tak kurasakan. 
"baik bude" jawabku sembari menutup novel yang sejak tadi kubaca, meletakkannya di atas rak buku yang tersedia, kemudian bersiap-siap untuk makan siang. 

Jarak dari rumah ke tempat makan soto ini memang tidak begitu jauh, namun tetap saja harus ditempuh dengan kendaraan, setidaknya dengan sepeda. 
Sesaat kemudian kami telah memasuki halaman parkir sebuah resto, "Soto Pak Toso" begitu nama resto tersebut terpahat di depan sebuah ruko kecil di sebelah kanan jalan raya.
Ku sunggingkan seutas senyum sebelum memasuki resto tersebut. Ku edarkan pandangan mataku ke sekeliling ruko ini, tepat didepan pintu masuk ku lihat sebuah miniatur khas resto ini, tradisional namun terlihat cukup elegan.
Setelah puas memandang ke semua arah barulah aku menyandarkan diriku pada sebuah kursi, persis berhadapan dengan budeku dan bersebelahan dengan adik sepupuku.


Tak perlu menunggu lama, datang seorang pelayan dengan menggunakan kaos putih bertuliskan kalimat "Soto Pak Toso". Kemudian dihidangkannya di meja kami beberapa mangkuk kecil berisi macam- macam cemilan (sepertinya khas resto ini). selanjutnya datang lagi seorang pelayanan laki-laki dengan memakai kaos yang sama, menghidangkan tiga mangkuk soto.

Kecil banget nih mangkuk, nasinya mana? batinku.
Tanpa banyak bicara aku mulai mengaduk perlahan soto di dalam mangkutersebut, hingga kudapati nasinya terangkat bersamaan dengan isi soto yang lainnya. 
"Unik ya dek?" aku mulai membuka percakapan.
"Iya mbak, emang gini kalo disini. Enak lho mbak, cobain dulu deh." jawaban sepupuku ini seperti berusaha meyakinkanku untuk menghabiskan soto ini dengan segera. 
"Iya tentunya, ini mau di coba" jawabku lagi
"Pakek satenya itu lho vy" budeku yang sejak tadi hanya memandangi kami dengan tersenyum, kini mulai angkat bicara.
Kulirik beberapa tusuk sate di dalam salah satu mangkuk kecil yang dihidangkan oleh pelayan tadi.
macam-macam atribut yang disediakan pelayan



"Ada sate apa saja ya," aku seolah bertanya pada diriku sendiri
"Itu lho mbak, ada telur puyuh, ampela, usus, ayam, dan kerang" ovie menimpali
"Kerang di sate dek?" tanyaku keheranan. 
"Iya mbak ini" jawabnya sambil mengangkat satu tusuk sate kerang dari dalam mangkuk mungil tersebut.
"Oh iya ya" jawabku mengakhiri rasa penasaranku, kemudian mengambil satu tusuk sate telur puyuh lalu menghabiskan jatahku.




Tuesday, June 20 '13 


Setelah menjalankan ritual harianku (shalat subuh) aku segera merapikan pakaian serta kerudung yang ku kenakan pagi ini. Sampai semuanya dirasa pas, akupun keluar dari kamar kemudian menuju garasi yang terletak di samping rumah.
Pagi ini aku sudah berjanji dengan sepupuku untuk berolahraga bersama, dan olahraga yang kami pilih adalah bersepeda. Perjalanan bersepeda ini ku tempuh dengan sangat bersemangat, disamping karena program diet yang sedang aku jalankan, udara di kota ini pun menjadi salah satu faktor penting yang menjadikan semangatku tak kandas.
Subhanallah,indah sekali rasanya bisa menghirip sepuasnya udara di kota kecil ini, benar-benar bersih! tak terkontaminasi sedikitpun dengan asap kendaraan yang biasanya berlalu lalang di jalanan.
Tempat seperti inilah yang sangat dirindukan banyak orang di luar sana. 
Aku tersenyum kepada diriku sendiri, andai bisa tinggal sepanjang massa disini, bahagianya, gumamku.
Tak cukup sampai disitu saja kekagumanku, bagaimana tidak?
Di sebelah kiri dan kanan jalan sama sekali tak terlihat gedung-gedung pencakar langit seperti yang biasanya. Yang ada disini hanya sawah nan hijau yang terbentang sangat luas, entah pastinya berapa hektar. Tak lupa bukit-bukit yang berbaris dengan rapinya.

Setelah sepuluh menit mengayuh sepeda, kini aku berpapasan dengan sebuah jalan aspal menanjak. Aku meneguk air liurku sendiri, apa sanggup? begitulah pertanyaan yang ada di otakku saat itu.
Untungnya adik sepupuku ini memahami kekhawatiranku tanpa aku harus bersuara terlebih dahulu.
"Di jinjing aja mbak sepedanya, kita sambil lari-lari kecil keatasnya" ujarnya
Aku hanya mengangguk sembari tersenyum padanya.

Tak lama kemudian kami mulai sampai di tempat yang cukup tinggi, sepertinya ini adalah puncaknya. Dan ternyata pemandangan yang sejak tadi membuatku terpukau itu belum ada apa-apanya, tepat di tempat aku berdiri sekarang tampak jalan setapak yang cukup panjang dan berkelok dengan bentangan sawah yang lebih memukau. Subhanallah.
Dan tanpa disangka, adikku mengajak aku untuk mengendarai sepeda turun kebawah,
Asyiiik! pikirku saat itu.
Aku mulai mengayuh sepedaku meluncur melewati jalan setapak yang berkelok. Udara pagi saat itu membelai ujung-ujung kerudungku, melayang mengikuti irama kicauan burung diatas sana. Tampak pula dari kejauahan sana puncak gunung disertai awan yang berarak mengikuti laju sepedaku.
Indahnya kuasaMu Ya Rabb, batinku.
Tak hentinya kalimat tasbih kulantunkan seiring dengan pedal sepeda yang ku kayuh dengan sisa-sisa tenagaku.
Setelah merasa sangat kelelahan akhirnya pertualangan pagi ini berakhir di alun-alun. Untuk sekedar mengisi perut, aku dan ovie memesan nasi uduk di sebuah angkringan yang berada di sekeliling alun-alun kota Kutoarjo ini.


Hah, mungkin sampai disini dulu aku menuliskan jejak-jejak langkah yang terekam dalam indera penglihatanku.  Next time, I'll write more :)

Minggu, 28 April 2013

Entahlah! Apa yang sebenarnya pantas dituliskan!


Matikah Aku Ini???
Entah apa yang sedang aku pikirkan!
Atau memang sesuggunhnya tak ada yang layak untuk aku pikirkan!
Aku disini, 
YA.
 masih di kota yang sama, sejak beberapa tahun ini.
Hanya saja, sepertinya hatiku tak lagi bersama ragaku...

Aku tak pernah memahami, 
Menangispun aku tak lagi bisa!
Lantas, apa arti semua ini!
Tak ada yang berguna menurutku, sekarang.

Aku HIDUP!
Tapi, aku tak mendapati jiwaku ada!

Entahlah... 
Bagaimana aku menjelaskan semua ini...

Apakah,Aku hidup dalam kematian?!
Atau justru, Aku mati dalam kehidupan?!

Sabtu, 27 April 2013

'll always remember :')

Detik ini aku ingin sekali menuliskan potongan-potongan jejak masa lalu yang belum pernah dapat aku lupakan hingga saat aku berdiri disini.
Tentu saja, aku selalu berusaha untuk melenyapkan siluet2nya yang sangat mendominasi memory otakku. tapi sepertinya usahaku tak pernah akan berhasil. Ia bukan hanya sekedar figuran di dalam skenario kehidupanku, melainkan dialah aktor utamanya!
kalian tau? aku bahkan pernah memohon pada Tuhan agar ingatanku hilang saja sebagian.
hmmm, untungnya Allah swt tak benar mengabulkan begitu saja doaku itu. Sungguh Allah swt itu Maha mengetahui dan senantiasa memberi apa yang sepantasnya diberi kepada kita.

"Aku tidak suka sendiri!" rajukku selalu,
"Dan aku selalu ada disini selagi kau menginginkan, bukan?" jawabnya. Masih dengan siluet yang sama, 3 tahun yang lalu.

Kalian tau, apa makna kasih dan sayang menurutku?

Sebenarnya sederhana,
Hanya segerombol kisah tentang dia,
dia sebagai makhluk ciptaan-Nya yang nyaris sempurna bagiku. yang membuat aku betul-betul mengagungkan-Nya karena ia yang dikirim oleh-Nya untuk ikut berperan dalam skenario kehidupanku.

dia yang ada saat aku butuh.
dia yang tanpa diminta akan berusaha memberi sebisanya! (bukan berarti aku terlalu matre ya) :D
dia yang siaga menjagaku kemanapun aku ingin pergi!
Tak pernah peduli seberapa jauh! seberapa rugi! dan seberapa sakit!

kalian tau! sampai saat ini aku berdiri, masih sangat terekam jelas di dalam memory otakku, semua.

Bagaimana ia meninggalkan sekolahnya selama satu minggu penuh, hanya untuk menjagaku yang terbaring lemah dengan selang infus yang tertancap di tangan.
Betapa sedih dan marahnya dia, saat melihat orang2 berpakaian putih-putih itu begitu saja menyodorkan pil-pil berwarna kuning, hitam, dan hijau agar segera aku masukan kedalam mulutku.
Tak juga pernah bisa ku lupa bagaimana sorot mata yang tampak begitu lelah itu memandangiku,

dia selalu tegar!
selalu berusaha tegar!
seperti tak pernah rasa lelah itu menghampiri tubuhnya saat ia menemaniku,

"Mama pulang saja, biar aku yang disini." begitu katanya, selalu saja mencoba memberikan yang terbaik untuk orang2 disekitarku.

Menjadi orang pertama yang mengenalkan aku dengan sebuah mesin yang dapat mengeluarkan uang bernama ATM. kemudian menghadiahkan aku sebuah kartu ajaib yang sangat aku jaga keberadaannya.
yang mempercayakan padaku semua komisi yang didapatnya dari pemerintah kota.


juga orang pertama yang mengenalkan sekaligus menghadiahkanku sebuah benda yang menjadi sesuatu yang sangat penting dan berharga bagiku, hingga saat ini.
dimana tempat aku menuliskan semua jejak yang aku lalui seharian,
Laptop, begitu aku menyebutnya.



"Jaga dirimu baik-baik ya dek. Saat kita sudah berada di posisi yang kita angankan saat ini, maka yakinlah jalan-Nya yang akan mempertemukan kita lagi. Disini." begitu pesannya tepat 3 tahun yang lalu.
berjarak hanya sehari sebelum hari kelahiranku. di tempat yang sama dimana kami juga mengikatkan diri pada ikatan semu di hari special itu, 5 tahun yang lalu.





heuh.... kau tau?
saat aku tersadar bahwa apa yang aku tuliskan ini hanya sepenggal masa lalu, rasanya sebagian dari diriku telah mati...
atau mungkin menghilang jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh sekali.

-'ll always remember u-

separoh dari semua jejak yang begitu saja kau tinggalkan 


Jumat, 26 April 2013

-tentang kamu dan mereka- (part I)


                “Kita akan bertemu satu tahun lagi disini ya nda, Insya Allah aku janji. Aku mencoba menenangkan sahabatku yang sejak tadi tak hentinya menangis di dalam pelukanku.

Hari ini adalah hari terakhirku stay di tanah kelahiranku ini. Prabumulih. Aku harus pergi ke tempat dimana aku belajar, menuntut ilmu, dan mengejar gelar sarjana. Sudah sejak pagi tadi beberapa sahabatku memang sengaja datang kerumahku. Pertemuan terakhir sejak liburanku disini, begitulah mereka menyebut moment di hari ini.

Hmmm, sebenarnya jika masih punya kesempatan untuk memilih, akupun tak ingin beranjak dari kota ini. Disini terlalu indah, tenang, dan membuat damai. Tapi apa dayaku? Aku sendirilah yang memilih dan kemudian memaksa kedua orang tuaku agar memberikan izin padaku untuk dapat menuntut ilmu di seberang sana. Dengan alasan kemajuan berpikir, teknologi, dan tentu saja pepatah pamungkasku tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.

Sampai kemudian kedua orang tuaku bersedia melepaskan seorang anak gadis pingitannya keluar dari pagar wilayahnya sendiri. Melangkah... sampai jauh ke seberang sana untuk belajar tentang makna kehidupan, mencoba berdiri di atas kakinya sendiri.
Hingga sekarang inilah AKU, bukan lagi si anak kesayangan papa, yang setiap harinya menunggu sang papa mengantarkan makan siangnya ke sekolah. Atau seorang gadis yang ketika terjatuh akan langsung berlari ke pelukan mama, sampai kemudian berhari-hari tak akan mau keluar rumah sendiri lagi. Atau mungkin seorang kakak yang selalu saja merebut mainan adiknya sendiri.
                “Sayang, ayo cepat! Nanti kita ketinggalan pesawat lagi, ini sudah jam 11 lho...” teriakkan mama  membuatku tersadar dari lamunanku.
Sesegera mungkin aku memeluk semua teman-temanku dan lantas merapikan bajuku yang tampak sedikit kusut.
                “Ia ma, ini udah siap kok. Yuuuk...” aku bergegas menyusul mamaku, setengah berlari ke dalam travel diikuti oleh teman-temanku.
Setelah berpamitan dan melambaikan tangan kepada semua yang mengantarku sampai ke teras depan rumah, travel putih yang aku naiki bersama mama dan seorang sepupuku itu pun melaju kencang menuju bandara.
######

                “oke sayang, hati-hati ya... jangan nakal! Jangan lupa shalat dan minta perlindungan dengan Allah swt. Dan yang paling penting, makan yang teratur dan vitaminnya selalu dibawa oke?”
Sesampainya di bandara, segera mamaku menyampaikan petuah-petuahnya yang harus, kudu, dan wajib aku selalu ingat dan jalankan sesuai jadwalnya.
                “Iya ma... iya... aku kan bukan anak kecil lagi” rajukku pada wanita cantik yang mengenakan gamis ungu tua di depanku ini.
                “Mama begini karena mama sayang sama kamu, senyum dong cantik...” bujuknya padaku sambil mengelus lembut kepalaku. Sementara aku tetap saja sibuk dengan HP kesayanganku.
                “cantik cium dulu dong, mau masuk kan?” sambung mamaku lagi.
                “iya... daaaah mama, tunggu aku tahun depan ya.” Jawabku seadanya, sambil mencium pipi kanan dan kiri mamaku dan kemudian memeluknya.

                Setelah masuk dan mengurus semua keperluan administrasi akupun melangkah bersama sepupuku masuk kedalam waiting room, dan tak lama kemudian kami masuk ke dalam cabin salah satu pesawat dari maskapai yang kami pilih. Beruntung, kali ini maskapai yang kami pilih karena harganya yang cukup terjangkau ini tidak menunda jadwal keberangkatannya.
Setelah mendapatkan tempat duduk sesuai dengan nomor yang ditentukan, akupun segera mengencangkan sabuk pengaman pesawat. Dan tidak perlu waktu lama, aku sudah terbuai jauh melayang dalam lamunanku sendiri.

               Bagaimana saat aku sampai di tempat tujuanku nanti, bagaimana dengan suasana kampus sekarang, dan entah berapa banyak kata “bagaimana” yang terlintas di otakku saat itu.
#####
                 Hari ini adalah hari pertama aku menginjakkan kembali kakiku di kampus perjuangan, begitu teman-temanku mengistilahkan tempat dimana aku menimba ilmu ini. Bukan hanya ilmu yang akan kupakai di dunia kerja, tapi juga ilmu yang Insya Allah akan menjadi bekalku mengarungi samudra kehidupan kedepannya. Tentunya itu semua yang akan menghantarkanku ke Surga-Nya kelak. Amin.

                “Pagi Namira!” suara sapaan itu sepertinya sudah tak asing lagi di telingaku. Aku berpikir sejenak, dan kemudian berusaha menebak nama orang yang menyapaku itu.
                “Hmmm, Nisa ya?” aku mencoba menebak, sambil terus mencoba melepaskan tangannya yang sejak tadi menutupi mataku.
                “Yakin?” perempuan dengan suara berlogat aceh itu seperti ingin mengacaukan keyakinanku terhadap jawaban tadi.
                “Ya iya lah, siapa lagi coba yang telapak tangannya selembut ini? Plus suara yang kental dengan logat Acehnya. Ayoooo ngaku deh,” jawabku sembari tersenyum.
Nisa pun segera melepaskan dekapan tangannya dari kedua mataku.
                “Kangen kamu!!!” dengan manja ia mengalihkan tangannya melingkari pinggangku, sambil tertawa. Tak lama kemudian datang kedua sahabat kami yang lainnya, Eva dan Dilla.
Eva, Aku (Namira), Dilla, dan Nisa

Kamipun berjalan beriringan menuju kelas yang berlabel Sakura room tempat kami belajar bersama teman-teman satu kelas lainnya.

                “Eh mira, gimana tuh si EL mu?” pertanyaan eva pun seketika membuat raut wajahku ditekuk. Aaaaaah, kenapa juga si eva pakek nanya-nanya soal dia? Padahalkan aku susah payah melupakan dia saat liburan kemarin. Hati kecilku seperti memberontrak.
                “Mira, kok melamun?” panggilan nisa membuyarkan semua keluh kesah dalam hatiku.
Hmmm, aku menarik nafas panjaaaaaaaaaaang sekali.
                “Oke, aku jelasin. Nothing special about him! Kalian tau? Dia itu sama sekali bukan yang baik. Playboy! Nyebelin! Kali ini aku bener –bener salah orang!”
                “Aku benci! Aku betul-betul nyesel pernah kenal dengan dia. Nyesel!” aku melanjutkan penjelasanku dengan nafas yang semakin memburu. Tanpa kusadari mataku mulai basah, air mataku tak terbendung lagi, diterjang oleh ombak kegalauan yang entah dari arah mana datangnya.


                “Ups... Sorry beab, I don’t know about it. Really...” nisa mencoba menenangkanku.
                “Oke, it’s fine. I’ll be oke guys! Who is he? Just a human, yang numpang lewat doang dikehidupan kita. Right?” aku mulai menggebu-gebu lagi, dan kali ini sepertinya volume suaraku mulai tak terkontrol.
Tanpa kusadari beberapa teman yang berada disekitar mulai menoleh ke arah kami, memandang aneh mungkin. Tapi sudahlah! Aku benar-benar tak peduli kali ini.
                “Hei semua... nih coba aku bawa apa? Roti keju buat kamu nis, cokelat buat eva, keripik buat aku, dan tentunya chocolatoz special buat kamu mira sayang.” tiba-tiba dilla langsung menghentikan kehebohannya dan segera mengambil posisi duduk di sebelahku.
                “Kamu kenapa sayang? Ada yang salah?” lanjutnya.
                “Nggak. Sudah gak usah dibahas!” pintaku pada mereka.
                “Hmmm biar aku tebak, masalah EL?” tanya dilla penasaran.
Aku masih saja terdiam.
                “Iya tuh nyebelin banget si EL! Udah mah aku dijadiin korban, sekarang si namira. Aku tonjok juga deh!” Celetuk eva sambil mengacungkan tinjunya.
                “Sudahlah! Kalian gak lihat reaksi namira? Sudahlah mira, aku juga kan udah bilang dari awal. Dia itu gak baik buat kamu. Orang kayak gitu kok dipercaya. Yasudahlah jadikan pelajaran aja!” Nisa menimpali.
si EL yang menyebalkan!

                “eh, kenapa kamu nggak sama si Qiqi aja say?” suara eva pun memecah keheningan.
                “What? Ya Rabb, apanya? Orang jutek kayak gitu kamu kasi ke aku. Nggak banget lah! Mending buat dilla aja tuh, cocok kan? Jutek-jutekan deh ntar.” Jawabku sekenanya, disambut tawa dilla, nisa, dan eva.
                Suasanapun kembali mencair, apalagi sesaat kemudian orang yang disebut-sebut bernama Qiqi pun muncul dari balik pintu masuk ruangan. Masih dengan gaya khasnya, celana bahan warna hitam, kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna biru dongker, ransel hitam besar, jacket parasut, dan tak ketinggalan kacamata minusnya.
Huh... betul-betul style yang monoton. Ya Ampun! Gak kebayang deh aku sama dia, batinku.
                “Woiiii! Ayo melamun ya?” dilla menggodaku.
                “pasti lagi ngeliatin sambil membayangkan si Qiqi ya?” nisa menimpali.
                “Apa sih kalian? Udah ihhhh ntar orangnya denger, Geer lagi!!!” aku membela diri.
                “Tuh kan mukanya merah, katanya gak suka? Jutek? Ayoooo” kini eva gantian menggodaku disambut tawa riuh dua sahabatku yang lainnya.



"siapakah si Qiqi ini?"




Note : Penasaran kan bagaimana kelanjutannya? Nantikan ya di part II nya. ;)
          Nama-nama diatas hanya karangan belaka, jadi kalau ada kesamaan nama mohon maaf ya.

Senin, 22 April 2013

special thank's for you :)


H-4
“Letih disini ku ingin hilang ingatan . . . letih disini ku ingin hilang ingatan . . .” alunan lagu dari salah satu band rocks yang tak sengaja ku dapat dari HP sepupuku itu semakin memanjakan rasa letih yang mendera tubuhku.
Hari ini adalah H-4 dari acara puncak yang akan kami adakan bulan ini, sebuah acara Gebyar yang akan menggetarkan kampusku! Begitulah kami meyakininya.

*Ting . . . tong . . .* nada dan getaran yang berasal dari benda kecil berwarna putih yang begitu saja ku letakkan di atas meja itu menyadarkanku.
From : Ketuplek GM (0899**********)
Yuk siap2 J Yg belum makan siang makan sekarang ya biar tepat waktu. Jangan lupa jam 13:30 kita kumpul di Gajebo ya  ^_^
Kalimat-kalimat itu begitu saja tertera di layar hp ku. Sungguh akhir-akhir ini, kami para wanita sangat sibuk untuk mempersiapkan acara ini.
###############
Setelah kuhabiskan makan siangku aku pun bergegas menuju tempat yang sudah diumumkan melalui sms ke hape-ku tadi.
“Assalamu’alaiqum, afwan ya aku telat...” sapaku pada beberapa teman yang tampaknya sudah cukup lama mendiskusikan sesuatu.
“Nggak apa-apa kok, sini ayo duduk.” Sembari tersenyum seorang wanita berkerudung merah nan panjang itu mempersilahkan aku untuk bergabung dengan mereka. Dia tidak lain adalah ketua divisi acara, dimana aku menjadi salah satu anggotanya.
Ku edarkan pandanganku ke sekeliling mereka, dan sesaat kemudian tatapanku berhenti pada sesosok wanita yang menginspirasiku sejak aku merasa tersesat karena masuk ke kampus ini. Ku perhatikan ia dengan seksama, setiap patah kata yg terlontar dari bibirnya juga tak ketinggalan gerak-geriknya. Sungguh sosok yang apa adanya, santai, fleksible, sabar, dan tentunya yang paling membuatku berdecak kagum adalah karena ia seorang penghapal Al-Qur’an.
“Jadi teman-teman kita sudah tidak punya banyak waktu, jadi di mohon dengan sangat kontribusinya, tolong sekali untuk memprioritaskan acara kita ini.” Begitulah kata-katanya yang aku betul-betul aku ingat selama berkontribusi dalam acara itu.
Kutangkap gurat-gurat letih di wajahnya, dan dugaanku semakin kuat ketika tak sengaja terlihat oleh bola mataku beberapa jerawan yang mulai bersemi di permukaan kulit wajahnya yang putih.
“pasti dia kelelahan sekali” batinku.
Dan tak lama kemudian sosok wanita yang menyapaku saat aku datang terlambat tadi, membagi-bagikan kepada kami masing-masing 3 lembar kertas.
“jadi teman-teman ini adalah job kita dalam waktu 3 hari kedepan, dan hari ini kita akan sama-sama menentukan penanggung jawab dari setiap poin-poin tugas yang sudah tertera di kertas tersebut.” Begitulah wanita yang menjabat sebagai koordinator divisiku itu menjelaskan maksud dari kertas yang barusan ia bagikan.
“oke jadi yang akan mengurus administrasi internal itu keuis dan elvina, tamu eksternal diana, pengantar tamunya nanti ketua pelaksana bersama jajaran BPH, nah selanjutnya....” sepertinya kurang lebih membutuhkan watu hampir satu jam untuk menentukan penanggung jawab dari semua poin tugas yang ada. Dan kemudian sampailah pada poin terakhir,
“jadi nanti yang akan jadi guidenya Dr. Inong dan kak Amal itu Dwi angesti ya? Dan selanjutnya untuk ibu Nia kurnia dan Dr. Anis itu siapa?” tanyanya pada kami semua.
“oh iya gimana kalo yuni aja?” belum sempat terpikirkan olehku jawabannya dia begitu saja sudah menawarkan jawaban, dan kemudian kami setuju.
“oke selanjutnya, yang akan menjadi guidenya pewski siapa?” tanyanya lagi. Dan semuanya masih tampak berpikir untuk menjawabnya.
“kamu aja gimana tasha?” sekali lagi ia menawarkan jawaban. Aku sangat terkejut mendengar namaku disebut-sebut, karena memang sejak tadi aku hanya memperhatikan gerak geriknya yang cekatan dan sama sekali tak memperhatikan apa yang ia bicarakan.
“apa-apa?” kataku gelagapan.
“Ya kamu mau gak jadi guidenya pewski?” tanyanya padaku.
Aku berpikir sejenak.........................
“afwan nih, kalo seandainya aku jadi guidenya Oki Setiana Dewi aja gimana?” aku balik melemparkan penawaran padanya, dan berharap ia dan teman-teman yang lain menyetujui.
mantap sambil mengaggukkan kepala tanda setuju.
Ya ampun, ini betulan? Aku nggak mimpi kan? Aku akan bertemu langsung dengan artis idolaku itu? Dan dengan menjadi guidenya itu artinya aku bisa berdekatan dengannya sepanjang ia berada di kampus nanti. Kurasakan jantungku kebat-kebit karena keputusan yang barusan saja diputuskan.
“dan berarti yang akan menjadi guidenya pewski wafa kamillah aja ya? Kan udah pernah ketemu sebelumnya.” Paparnya tegas.
Keputusan itu menjadi penutup pembahasan rapat sore itu. Sungguh rasanya aku ingin cepat-cepat saja hari puncak, agar bisa langsung bertemu dengan artis idolaku itu.
###############

H-1
(terlalu panjang pemirsa kalo harus dituliskan disini semua kejadiannya, maklum saya juga lagi sakit ini, dan untuk mengusir kebosanan saya putuskan untuk menulis saja)

From: Ketuplek GM (0899**********)
Yuk yang belum makan siang, segera ya biar ga jadi jam karet J kita kumpul di Aula jam 13:30 Yuk sama2 totalitas ^_^ mohon kerjasamanya

*Subhanallah betul-betul wanita yang sabar dan lembut ya* batinku.  Aku selalu suka dengan jarkoman dari ketua pelaksana acara ini, betul-betul perhatian dengan semua anggotanya. Kekagumanku makin bertambah saja pada ciptaan-Nya ini, sungguh pemimpin yang baik.
Tibalah saat kami mempersiapkan ruangan, kegiatan kami dimulai dari membuka semua ruangan, membersihkan, dan kemudian menata ruangan. Tak lupa setelah semua ruangan beres, kami pun beralih mempersiapkan ruangan bintang tamu.
Dan sesuatu yang sangat menarik disini adalah saat para ikhwan memindahkan tenda Bazar yang sudah terpasang dengan jarak yang lumayan. Subhanallah... kembali aku berdecak kagum dengan semangat dan keikhlasan para panitia hari itu. J J J
Sangat melelahkan memang, tapi semua ini meninggalkan lembaran kesan yang akan selalu aku simpan baik-baik dalam locker otakku.
Dan kegiatan kami hari itu berakhir pada pukul 22:30 wib.
Setelah semuanya selesai kamipun beranjak pulang kerumah masing-masing. Dan seperti biasanya, karena besok aku harus menjemput Oki Setiana Dewi pagi-pagi sekali, akhirnya akupun menginap di asrama putri di kampusku.
Dan aku menginap di kamar yang sama dengan ketua pelaksanaku, Subhanallah. . . 
Dia sangat baik dan jarang sekali mengeluh, sungguh perjuangannya pikiran dan tenaganya benar-benar ia persembahkan untuk acara ini.

###############

Beberapa hari kemarin aku belajar banyak hal dari ketua pelaksana dan koordinator acara ini, juga tak lupa rekan-rekan panitia yang lain. Sungguh pengalaman yang sangat dan teramat berharga untukku. Melalui tulisan ini aku ingin memohon maaf kepada mereka semua, rekan-rekanku dalam kepanitiaan acara ini. Karena akupun menyadari belum berkontribusi secara maksimal dalam acara ini.
Aku juga ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua rekan-rekan kepanitiaan ini,

 dan special thank’s for u Ketua Pelaksana dan Ketua divisi acara yang sudah berjuang mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk acara ini, bahkan sampai suaranya habis. Inilah dia acara kami,

Dan ketua pelaksananya
yang disebelah kiri ya... :)

Serta Ketua divisi acara 
yang disebelah kiri ya :)
yang disebelah kiri :)

Rabu, 10 April 2013

Suara Hati Part I


            Setelah melaksanakan shalat Subuh pagi ini, akupun kembali beranjak menuju pembaringan. Ya . . . aku kembali tertidur, setelah semalam aku baru bisa tidur pukul 2:00 wib. Dan penyebabnya masih hal yang sama, karena aku harus menyicil pembuatan 3 bentuk proposal dana untuk suatu kegiatan di kampusku.
###

Tak lama kemudian aku kembali terbangun,  membuka mata, dan sesaat kemudian berkata pada diriku sendiri: All is well syilla! Lakukan yang bisa kau lakukan. Bergerak atau kau akan tergantikan oleh orang lain yang lebih pantas.
Aku tidak tau kapan persisnya aku mulai memberi diri sendiri kalimat penyemangat harian seperti ini. Yang pasti setidaknya aku tau mengapa, ya karena aku memang membutuhkannya, mantra yang bisa membuatku mengesampingkan rasa lelah yang kerap kali mendera tubuhku.
            Pagi ini, setelah menyemangati diri sendiri, aku melirik jam digital berbentuk katak kesayanganku. Pukul 07:00, waktu yang pas untuk bersiap-siap berangkat ke kampus.
###
Setelah semua dirasa pas, akupun bergegas melangkah, mengunci pintu, dan kemudian berlari membaur bersama warga komplek perumahan lainnya.
“ Pagi pak!!! ” sapaku pada seorang bapak yang belakangan ku ketahui bernama Tono.
“ Eh, Syilla. Pagi nak... Mau berangkat ke kampus? “ ia balik menanyaiku sembari tetap melakukan beberapa gerakan senam ringan di teras rumahnya.
“ Iya nih pak. Hari Ini ada acara di kampus.” Jawabku
Dan selanjutnya, pak tono hanya tersenyum kecil seraya berkata, “Hati-hati ya nak”
Aku terus saja berjalan, dan setelah itu naik ke dalam angkutan umum yang biasa aku naiki untuk bisa sampai ke kampusku.
Berada di dalam angkutan umum ini memang selalu menyenangkan buatku. Aku memilih untuk duduk di pinggir, bersebelahan dengan pintu yang memang dibiarkan terbuka. Dari tempat ini, bisa aku rasakan semilir angin pagi yang menerpa wajah, kerudung dan ujung-ujung rok-ku. Dan itu membuat aku merasa damai dan tentunya yang membuatku bertambah nyaman, karena disini aku bisa leluasa melaksanakan  ritual favoritku, melamun.
            “Pondok Rangga  . . . Pondok Rangga . . . kampus neng.”
Teriakan dari sopir angkutan ini seketika membuyarkan lamunanku. Tak terasa aku sudah sampai di tujuanku.
Aku pun melangkah keluar dari angkutan umum yang kunaiki tadi. Dan setelah memberikan selembar uang dua-ribuan, aku segera mempercepat langkahku masuk kedalam lingkungan kampus.
            Ketika aku tiba di dalam kampus, tisya dan natha sudah menungguku di bawah pohon kebanggaan kami. Tisya menatapku, memandang laptop yang begitu saja kujinjing dengan tanganku, sesaat kemudian kembali menatap wajahku, mataku tepatnya.
            “Pagi syilla! Bukankah pagi ini cerah? Sesuai dengan doamu kemarin.” Natha menyapaku ramah.
            “Iya, pagi ini cerah sekali nath. Aku hampir lupa kalau matahari yang muncul pagi ini masih sama dengan metahari yang muncul di hari kemarin.” Jawabku agak puitis.
            “Dan semalam kau begadang lagi?” pertanyaan yang terlontar dari mulut mungil Tisya membuatku tidak nyaman. Aku tak kuasa menjawabnya, aku hanya bisa tertunduk.
            “Kenapa gak dijawab syill?  Ayo!” tisya melanjutkan pertanyaannya sambil mencengkram dan menggoyang-goyangkan lenganku. Dan aku masih tertunduk diam, dan sesaat kemudian air mata mulai membasahi pelupuk mataku.
            “Hmmm, iya. Aaaaaaa . . . kkkku. . .” aku tak mampu melanjutkan perkataanku. Kurasakan lidahku begitu kelu dan kakiku terasa tak punya daya untuk menopang tubuhku yang memang tidak terlalu langsing.  Sesaat kemudian . . .
“Aku lelah” suaraku terdengar serak, dan memang hanya kalimat itu yang mampu untuk ku ucapkan saat ini.
Tisha mendekap tubuhku, mencoba menenangkan aku.
“Aku mengerti, sangat mengertiiiiiiiii sekali, tapi tak seharusnya kau merusak tubuhmu sendiri seperti ini syilla sayang.”
Aku tak mampu mengeluarkan sepatah katapun, hanya air mataku saja yang sejak tadi tak henti mengalir, hingga membasahi kerudung hijau muda yang dikenakan sahabatku ini.
            “syill, aku mungkin belum bisa membantu apapun, tapi aku hanya ingin sahabatku ini punya waktu untuk me-rileksasikan dirinya sendiri. Sekokoh-kokohnya batu karang di lautan pasti akan hancur juga jika terus menerus diterjang ombak. Nah. . . begitupun tubuhmu, apa syilla gak khawatir dengan keadaan tubuh syilla? Walaupun sepertinya sekarang masih kuat dan tak pernah kambuh lagi, tapi nanti, akan tiba pada batas-nya.”  Tisha melanjutkan nasihatnya.
Aku mengangguk, sambil mengelap pipiku yang basah oleh air mata. Dan sesaat kemudian aku mendapati tenagaku kembali pulih.
Natha yang sejak tadi memperhatikan kami ternyata juga menitikkan air mata.
            “Sudah, seorang syilla kok nangis sih? Gak banget deh.” Celetuknya.
            “Gak, tadi itu Cuma acting kali!” aku mencoba membela diri.
            "Oh, iya deh percaya." Jawab Natha sembari mencubit pipi bakpao-ku
Dan sesaat kemudian kami pun bersama melangkah menuju ke ruangan

kelas.
###

*Nantikan kelanjutan ceritanya di Suara hati part II


Sketsa Saat aku dan Tisha bermain di padang ilalang

Aku (syilla) <kiri>, Tisha <tengah>, Natha <kanan>

Ini hamster kesayangan saya namanya "Keybell"l