Sapaan itu sukses membungkam ketakutanku, rasanya mungkin sama seperti saat seorang musafir diberi sebotol air disaat ia amat kehausan. Sudah sejak setengah jam yang lalu aku menunggu kedatangannya disini, Terminal Lama, di sebuah kota kecil namun selalu terlihat istimewa, setidaknya bagi diriku sendiri.
"Ovie!" jawabku setengah menjerit sambil mendekap tubuh mungilnya erat.
"Ovie!" jawabku setengah menjerit sambil mendekap tubuh mungilnya erat.
Thank's God aku berujar pada diriku sendiri. kemudian ku tarik koperku menuju kendaraan roda dua yang akan mengantarkan kami ke kediaman pakde dan budeku ini.
Bergegas aku mengambil alih kendali kendaraan itu, tak lama kemudian kami sudah melaju bersama kendaraan bermotor lainnya.Sungguh menyenangkan, jalan rayanya pun tak sepadat kota dimana aku berdomisili, hanya ada beberapa bus dan motor yang mengisi jalanan. Beberapa warga pun masih bertahan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi mereka sehari-hari, tak kulewatkan juga untuk memandangi hamparan sawah nan hijau yang membentang disebelah kiri dan kanan jalan raya menambah apik-nya provinsi jawa tengah ini.
Kira-kira 15 menit menempuh perjalanan, akhirnya motor yang kami kendarai dari stasiun tadi mulai memasuki perkarangan sebuah rumah ber cat orange milik pakde dan budeku.
"Assalamualaikum" aku memberi salam pada penghuni rumah.
"Waalaikumsalam, eh cah ayu udah sampe to? Capek ya pasti? Yuuuk masuk, istirahat." budeku menyambut kedatanganku dengan senyuman ramah, sementara gadis kecil yang tadi menjemputku bergegas menarik koper yang ku bawa ke dalam sebuah ruangan mungil di pojok ruang tv.
Ah, sungguh tak banyak yang berubah dari rumah ini sejak liburanku tahun lalu, dan aku menyukainya.
Tak lama kemudian aku mulai terlibat dalam obrolan panjang seputar kuliah, keluarga, hingga keuangan keluarga besar kami.
Tak lama kemudian aku mulai terlibat dalam obrolan panjang seputar kuliah, keluarga, hingga keuangan keluarga besar kami.
Wednesday, June 19 '13
"Vy hari ini makan siang di luar aja ya, mau?" pertanyaan budeku itu sontak membuat aku berdiri, padahal sejak pagi tadi aku hanya bermalas-malasan di atas kasur sambil membaca novel yang memang sengaja ku bawa. Karena asyik sendiri aku sampai tidak menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, laparpun sama sekali tak kurasakan.
"baik bude" jawabku sembari menutup novel yang sejak tadi kubaca, meletakkannya di atas rak buku yang tersedia, kemudian bersiap-siap untuk makan siang.
Jarak dari rumah ke tempat makan soto ini memang tidak begitu jauh, namun tetap saja harus ditempuh dengan kendaraan, setidaknya dengan sepeda.
Sesaat kemudian kami telah memasuki halaman parkir sebuah resto, "Soto Pak Toso" begitu nama resto tersebut terpahat di depan sebuah ruko kecil di sebelah kanan jalan raya.
Ku sunggingkan seutas senyum sebelum memasuki resto tersebut. Ku edarkan pandangan mataku ke sekeliling ruko ini, tepat didepan pintu masuk ku lihat sebuah miniatur khas resto ini, tradisional namun terlihat cukup elegan.
Setelah puas memandang ke semua arah barulah aku menyandarkan diriku pada sebuah kursi, persis berhadapan dengan budeku dan bersebelahan dengan adik sepupuku.
Setelah puas memandang ke semua arah barulah aku menyandarkan diriku pada sebuah kursi, persis berhadapan dengan budeku dan bersebelahan dengan adik sepupuku.
Tak perlu menunggu lama, datang seorang pelayan dengan menggunakan kaos putih bertuliskan kalimat "Soto Pak Toso". Kemudian dihidangkannya di meja kami beberapa mangkuk kecil berisi macam- macam cemilan (sepertinya khas resto ini). selanjutnya datang lagi seorang pelayanan laki-laki dengan memakai kaos yang sama, menghidangkan tiga mangkuk soto.
Kecil banget nih mangkuk, nasinya mana? batinku.
Tanpa banyak bicara aku mulai mengaduk perlahan soto di dalam mangkutersebut, hingga kudapati nasinya terangkat bersamaan dengan isi soto yang lainnya.
Kecil banget nih mangkuk, nasinya mana? batinku.
Tanpa banyak bicara aku mulai mengaduk perlahan soto di dalam mangkutersebut, hingga kudapati nasinya terangkat bersamaan dengan isi soto yang lainnya.
"Unik ya dek?" aku mulai membuka percakapan.
"Iya mbak, emang gini kalo disini. Enak lho mbak, cobain dulu deh." jawaban sepupuku ini seperti berusaha meyakinkanku untuk menghabiskan soto ini dengan segera.
"Iya tentunya, ini mau di coba" jawabku lagi
"Pakek satenya itu lho vy" budeku yang sejak tadi hanya memandangi kami dengan tersenyum, kini mulai angkat bicara.
Kulirik beberapa tusuk sate di dalam salah satu mangkuk kecil yang dihidangkan oleh pelayan tadi.
Kulirik beberapa tusuk sate di dalam salah satu mangkuk kecil yang dihidangkan oleh pelayan tadi.
![]() |
| macam-macam atribut yang disediakan pelayan |
"Ada sate apa saja ya," aku seolah bertanya pada diriku sendiri
"Itu lho mbak, ada telur puyuh, ampela, usus, ayam, dan kerang" ovie menimpali
"Kerang di sate dek?" tanyaku keheranan.
"Iya mbak ini" jawabnya sambil mengangkat satu tusuk sate kerang dari dalam mangkuk mungil tersebut.
"Oh iya ya" jawabku mengakhiri rasa penasaranku, kemudian mengambil satu tusuk sate telur puyuh lalu menghabiskan jatahku.
Tuesday, June 20 '13
Setelah menjalankan ritual harianku (shalat subuh) aku segera merapikan pakaian serta kerudung yang ku kenakan pagi ini. Sampai semuanya dirasa pas, akupun keluar dari kamar kemudian menuju garasi yang terletak di samping rumah.
Pagi ini aku sudah berjanji dengan sepupuku untuk berolahraga bersama, dan olahraga yang kami pilih adalah bersepeda. Perjalanan bersepeda ini ku tempuh dengan sangat bersemangat, disamping karena program diet yang sedang aku jalankan, udara di kota ini pun menjadi salah satu faktor penting yang menjadikan semangatku tak kandas.
Subhanallah,indah sekali rasanya bisa menghirip sepuasnya udara di kota kecil ini, benar-benar bersih! tak terkontaminasi sedikitpun dengan asap kendaraan yang biasanya berlalu lalang di jalanan.
Tempat seperti inilah yang sangat dirindukan banyak orang di luar sana.
Aku tersenyum kepada diriku sendiri, andai bisa tinggal sepanjang massa disini, bahagianya, gumamku.
Tak cukup sampai disitu saja kekagumanku, bagaimana tidak?
Di sebelah kiri dan kanan jalan sama sekali tak terlihat gedung-gedung pencakar langit seperti yang biasanya. Yang ada disini hanya sawah nan hijau yang terbentang sangat luas, entah pastinya berapa hektar. Tak lupa bukit-bukit yang berbaris dengan rapinya.
Setelah sepuluh menit mengayuh sepeda, kini aku berpapasan dengan sebuah jalan aspal menanjak. Aku meneguk air liurku sendiri, apa sanggup? begitulah pertanyaan yang ada di otakku saat itu.
Untungnya adik sepupuku ini memahami kekhawatiranku tanpa aku harus bersuara terlebih dahulu.
"Di jinjing aja mbak sepedanya, kita sambil lari-lari kecil keatasnya" ujarnya
Aku hanya mengangguk sembari tersenyum padanya.
Tak lama kemudian kami mulai sampai di tempat yang cukup tinggi, sepertinya ini adalah puncaknya. Dan ternyata pemandangan yang sejak tadi membuatku terpukau itu belum ada apa-apanya, tepat di tempat aku berdiri sekarang tampak jalan setapak yang cukup panjang dan berkelok dengan bentangan sawah yang lebih memukau. Subhanallah.
Dan tanpa disangka, adikku mengajak aku untuk mengendarai sepeda turun kebawah,
Asyiiik! pikirku saat itu.
Aku mulai mengayuh sepedaku meluncur melewati jalan setapak yang berkelok. Udara pagi saat itu membelai ujung-ujung kerudungku, melayang mengikuti irama kicauan burung diatas sana. Tampak pula dari kejauahan sana puncak gunung disertai awan yang berarak mengikuti laju sepedaku.
Indahnya kuasaMu Ya Rabb, batinku.
Tak hentinya kalimat tasbih kulantunkan seiring dengan pedal sepeda yang ku kayuh dengan sisa-sisa tenagaku.
Setelah merasa sangat kelelahan akhirnya pertualangan pagi ini berakhir di alun-alun. Untuk sekedar mengisi perut, aku dan ovie memesan nasi uduk di sebuah angkringan yang berada di sekeliling alun-alun kota Kutoarjo ini.
Hah, mungkin sampai disini dulu aku menuliskan jejak-jejak langkah yang terekam dalam indera penglihatanku. Next time, I'll write more :)
Tuesday, June 20 '13
Setelah menjalankan ritual harianku (shalat subuh) aku segera merapikan pakaian serta kerudung yang ku kenakan pagi ini. Sampai semuanya dirasa pas, akupun keluar dari kamar kemudian menuju garasi yang terletak di samping rumah.
Pagi ini aku sudah berjanji dengan sepupuku untuk berolahraga bersama, dan olahraga yang kami pilih adalah bersepeda. Perjalanan bersepeda ini ku tempuh dengan sangat bersemangat, disamping karena program diet yang sedang aku jalankan, udara di kota ini pun menjadi salah satu faktor penting yang menjadikan semangatku tak kandas.
Subhanallah,indah sekali rasanya bisa menghirip sepuasnya udara di kota kecil ini, benar-benar bersih! tak terkontaminasi sedikitpun dengan asap kendaraan yang biasanya berlalu lalang di jalanan.
Tempat seperti inilah yang sangat dirindukan banyak orang di luar sana.
Aku tersenyum kepada diriku sendiri, andai bisa tinggal sepanjang massa disini, bahagianya, gumamku.
Tak cukup sampai disitu saja kekagumanku, bagaimana tidak?
Di sebelah kiri dan kanan jalan sama sekali tak terlihat gedung-gedung pencakar langit seperti yang biasanya. Yang ada disini hanya sawah nan hijau yang terbentang sangat luas, entah pastinya berapa hektar. Tak lupa bukit-bukit yang berbaris dengan rapinya.
Setelah sepuluh menit mengayuh sepeda, kini aku berpapasan dengan sebuah jalan aspal menanjak. Aku meneguk air liurku sendiri, apa sanggup? begitulah pertanyaan yang ada di otakku saat itu.
Untungnya adik sepupuku ini memahami kekhawatiranku tanpa aku harus bersuara terlebih dahulu.
"Di jinjing aja mbak sepedanya, kita sambil lari-lari kecil keatasnya" ujarnya
Aku hanya mengangguk sembari tersenyum padanya.
Tak lama kemudian kami mulai sampai di tempat yang cukup tinggi, sepertinya ini adalah puncaknya. Dan ternyata pemandangan yang sejak tadi membuatku terpukau itu belum ada apa-apanya, tepat di tempat aku berdiri sekarang tampak jalan setapak yang cukup panjang dan berkelok dengan bentangan sawah yang lebih memukau. Subhanallah.
Dan tanpa disangka, adikku mengajak aku untuk mengendarai sepeda turun kebawah,
Asyiiik! pikirku saat itu.
Aku mulai mengayuh sepedaku meluncur melewati jalan setapak yang berkelok. Udara pagi saat itu membelai ujung-ujung kerudungku, melayang mengikuti irama kicauan burung diatas sana. Tampak pula dari kejauahan sana puncak gunung disertai awan yang berarak mengikuti laju sepedaku.
Indahnya kuasaMu Ya Rabb, batinku.
Tak hentinya kalimat tasbih kulantunkan seiring dengan pedal sepeda yang ku kayuh dengan sisa-sisa tenagaku.
Setelah merasa sangat kelelahan akhirnya pertualangan pagi ini berakhir di alun-alun. Untuk sekedar mengisi perut, aku dan ovie memesan nasi uduk di sebuah angkringan yang berada di sekeliling alun-alun kota Kutoarjo ini.
Hah, mungkin sampai disini dulu aku menuliskan jejak-jejak langkah yang terekam dalam indera penglihatanku. Next time, I'll write more :)





























